Boulevard Maria Luiza
oleh: Pay Jarot Sujarwo

Boulevard Maria Luiza. Ini adalah
jalan utama di tengah kota Sofia. Di musim dingin, pohon-pohon kehilangan daun.
Tapi tentu saja bukan pohon mati. Nanti, menjelang musim semi, dedaunan akan
mulai bertumbuhan. Menurutku, sebagai manusia yang berasal dari tropical area,
yang ijo royo-royo, yang gemahripah loh jinawi, menyaksikan pohon-pohon tanpa
daun adalah keunikan tersendiri. Tak jarang aku berhenti agak lama demi untuk
menikmati, juga memotret pohon-pohon itu. Rerantingnya seperti sepi yang
menyelinap di relung hati. Di beberapa batang yang agak besar, kadang gagak
hitam hinggap. Jika angin berhembus, reranting kecilnya seperti tertampar.
Bergoyang-goyang, mengabarkan kepada siapa saja, bahwa reranting kecil itu
belum mati.
Boulevard merupakan jalan yang
besar. Kerap terdapat median di tengah untuk membagi jalan menjadi dua arah.
Hampir semua orang di Kota Sofia mengetahui keberadaan Boulevard Maria Luiza.
Terlebih wisatawan. Ini seperti jalur wajib yang harus dilewati, sebab melalui
jalan ini para turis akan bertemu dengan berbagai spot menarik.
Nama Maria Luiza diambil dari nama
putri, anak perempuan dari raja Boris III, raja Bulgaria yang naik tahta di
masa perang dunia I. Di Bulgaria, mungkin juga di banyak negeri-negeri lain,
nama-nama tokoh di masa lalu kerap dijadikan nama jalan. Dan di zaman modern
ini, barangkali orang-orang lebih banyak mengenal Maria Luiza sebagai nama
jalan ketimbang tuan putri yang harus melarikan diri bersama ibunya ke Mesir
dan Spanyol karena negeri tersebut mengalami kekalahan perang yang menyakitkan.
Hampir setiap hari, jalan ini
selalu ramai. Di jalan raya, tak jarang kemacetan terjadi, khususnya di dekat
perempatan. Di sisi dua jalan, trotoar bagi pejalan kaki, hampir pasti selalu
penuh di jam pergi dan pulang kerja.
Terus terang, aku kagum dengan
budaya jalan kaki orang-orang Eropa. Trotoar adalah etalase peradaban negara
maju. Budaya, estetika, juga perkara kedisiplinan masyarakatnya bisa tergambar
pada kondisi trotoarnya. Ini penting. Ini identitas sebuah kota.
Di Boulevard Maria Luiza, aku
menyaksikan orang-orang hilir mudik berjalan kaki. Sebagian dari mereka tampak
terburu. Mungkin karena harus cepat sampai di tempat tujuan. Mungkin pula
karena dingin sehingga para pejalan itu enggan berlama-lama di tempat terbuka.
Atau mungkin, memang sudah budaya mereka berjalan dengan langkah yang tegas dan
cepat.
Tak membutuhkan waktu lama bagiku
untuk akrab dengan tempat ini. Hampir setiap hari aku melewatinya. Dimulai dari
Lions Bridge, jembatan di atas sungai Vladaya yang terletak di pusat kota
Sofia, kakiku melangkah menuju rute dengan nilai sejarah mencengangkan,
setidaknya bagi turis amatiran seperti aku.
Setelah berjumpa dengan hilir
mudik manusia lalu lalang dengan tergesa, dari kejauhan mataku menabrak menara
yang begitu khas. Masjid, itu masjid. Aku sudah membatin. Sebab menara berbentuk
seperti pensil itu tegak menyertai sebuah bangunan berkubah. Walaupun tentu
saja nanti akan banyak kujumpai bangunan berkubah yang bukan masjid, tapi aku
tak salah menduga untuk yang satu ini.
Namanya Masjid Banya Bashi.
Berdiri, sebab kekhalifahan Utsmaniyah cukup lama berada di sini. Tepat di
seberang Masjid Banya Bashi, kita akan bertemu gedung dengan gaya arsitektur
neo renaissance, berdiri di awal tahun 1900an berfungsi sebagai pasar central
yang sampai sekarang pun masih sebagai pasar central. Ratusan tahun orang-orang
melakukan aktivitas jual beli di sini. Lanjut maju sedikit ke depan, masih
dengan bangunan seperti yang sering kita saksikan di film film epic dengan
setting masa lalu, sungguh aku tak pernah mengira bahwa landmark yang nyaris
bersebelahan dengan Masjid Banya Bashi adalah sebuah departement store modern.
Dari luar ini semacam istana kuno abad pertengahan. Tapi begitu masuk ke dalam,
segala barang modern tersedia. Di depan Departement Store ada banyak deretan
bangku-bangku kosong. Dari sini mata kita akan dapat melihat dengan jelas
bangunan megah lainnya, Gereja Santo Nedelya. Ini adalah gereja ortodox yang
berada tepat di tengah kota Sofia. Berdiri sejak abad pertengahan, yang telah
mengalami kehancuran selama berabad-abad dan telah direkonstruksi berkali-kali.
Kita berhenti dulu di sini, kawan.
Aku menggigil. Dingin teramat sangat.
Posting Komentar untuk "Boulevard Maria Luiza"